Saturday, August 27, 2016

Diabetes Mellitus

DEFINISI
Diabetes Mellitus (DM) adalah sindroma klinis heterogen ditandai peninggian kadar glukosa darah (hiperglikemia) kronik akibat defisiensi insulin, relatif atau absolut, dan/atau hiperglukagonemia (Unger & Foster, 1985). Akibat defisiensi insulin akan timbul serentetan gangguan metabolisme karbohidrat (zat hidrat arang, KH), lemak dan protein (Asdie, 2000).

Tampilan klinis Diabetes Mellitus pada fase awal, gejala dan kelainan umumnya, adalah akibat gangguan metabolisme, sedang pada keadaan lanjut adalah akibat (sering disebut komplikasi atau penyulit) kelainan vasa (angiopati, vaskulopati). Jadi, pada diabetes ada dua komponen kelainan, metabolik dan angiopatik (Asdie, 1988 cit. Asdie, 2000).

KLASIFIKASI
Menurut PB. PERKENI (2002), berdasarkan etiologinya DM dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 
DM Tipe 1 
DM Tipe 1 terjadi akibat destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut dan dapat bersifat autoimun atau idiopatik 
DM Tipe 2 
DM Tipe 2 memiliki jenis bervariasi, mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif, sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin. 
DM Tipe Lain 
DM Tipe Lain dapat berupa defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang, atau sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM. 
DM Gestasional 
DM Gestasional merupakan gangguan toleransi glukosa berbagai derajat yang ditemukan pertama kali pada saat hamil, tanpa membedakan apakah pengidap perlu terapi insulin atau tidak.

DIAGNOSIS
Menurut PB. PERKENI (2002), kriteria diagnostik DM dan Gangguan Toleransi Glukosa adalah sebagai berikut :
  1. Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) ≥ 200 mg/dl
  2. Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) ≥ 126 mg/ dl
  3. Kadar glukosa plasma ≥ 200 mg/ dl pada 2 jam pasca pembebanan glukosa 75 gram pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO).

Kriteria diagnostik ini harus dikonfirmasi ulang pada hari yang lain, kecuali untuk keadaan khas hiperglikemia dengan dekompensasi metabolik berat, seperti ketoasidosis, serta gejala klasik: poliuri, polidipsi, polifagi dan berat badan menurun cepat.

KOMPLIKASI
Dalam perjalanan penyakit DM, dapat terjadi berbagai macam komplikasi, yang meliputi komplikasi akut dan komplikasi kronik. Komplikasi akut, meliputi:

Ketoasidosis Diabetik (KAD)
KAD merupakan suatu kondisi dekompensasi metabolik akibat defisiensi insulin absolut atau relatif dan merupakan komplikasi akut DM yang serius. Gambaran klinik utama KAD adalah hiperglikemia, ketosis dan asidosis metabolik (Soewondo, 2002).

Hiperosmolar Non Ketotik (HNK)
Pada umumnya HNK terjadi pada penderita DM tipe 2. Penyebabnya adalah defisiensi insulin dan masukan cairan yang tidak adekuat, yang kemudian mengakibatkan peningkatan produksi glukosa hepar dan gangguan penggunaan pada glukosa pada otot skelet (Powers, 2001). 

Hipoglikemia 
Hipoglikemia merupakan keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan penurunan glukosa darah. Gejala ini dapat ringan berupa gelisah sampai berat berupa koma dengan kejang. Penyebab tersering hipoglikemia adalah obat-obat hipoglikemik golongan sulfonilurea, khususnya glibenklamid (Boedisantoso et.al., 1995).

Komplikasi Kronik, meliputi:
Komplikasi Mikrovaskuler
  1. Retinopati. Retinopati terjadi akibat kerusakan pembuluh darah yang mensuplai darah ke retina. Retinopati dapat menyebabkan pembengkakan pada makula retina, sehingga dapat terjadi gangguan penglihatan dan bila berlanjut dapat terjadi kebutaan (ADA, 2003).
  2. Nefropati. Patogenesis nefropati berkaitan dengan adanya keadaan hiperglikemia kronik. Pada nefropati terjadi perubahan struktural pada glomerulus, sehingga terjadi gangguan pada fungsi ginjal.
  3. Neuropati. Neuropati merupakan kerusakan pada syaraf yang diakibatkan oleh tingginya kadar glukosa dalam darah. Namun patogenesis terjadinya neuropati belum diketahui secara pasti. Neuropati dapat terjadi baik pada saraf sensorik, motorik, maupun otonom (ADA, 2003). DM tipe 1 dan 2 yang diderita dalam waktu lama dapat mempengaruhi motilitas dan fungsi sistem gastrointestinal dan sistem genitourinaria. Neuropati otonomik pada sistem gastrointestinal dapat mengakibatkan kerusakan syaraf parasimpatis, dan dapat terjadi gastroparesis, konstipasi, diare, disfungsi esofagus. Neuropati otonomik pada sistem genitourinaria dapat menyebabkan disfungsi genitourinaria, misalnya kistopati, disfungsi ereksi pada pria, dan disfungsi seksual pada wanita, yang meliputi berkurangnya hasrat seksual, dispareunia, dan berkurangnya lubrikasi vagina (Powers, 2001). Neuropati otonomik pada vesika urinaria dapat mengakibatkan kelemahan otot vesika urinaria sehingga tidak mampu untuk mengosongkan isinya secara sempurna (ADA, 2003).

Komplikasi Makrovaskuler
  1. Pembuluh darah koroner. DM adalah salah satu faktor resiko mayor dari penyakit kardiovaskuler (setara dengan merokok, hipertensi dan hiperlipidemia). Peningkatan morbiditas dan mortalitas diduga berkaitan dengan adanya sinergisme antara hiperglikemia dengan faktor resiko kardiovaskuler lain, misalnya dislipidemia, hipertensi, obesitas, aktivitas fisik yang rendah, dan merokok (Powers, 2001).
  2. Pembuluh darah tepi. Peripheral vascular disease atau penyakit vaskuler perifer sering terjadi pada penderita DM. Resiko penderita DM terkena penyakit vaskuler perifer adalah 8 kali lebih besar daripada orang yang tidak menderita DM. Komplikasi yang sering terjadi adalah kerusakan pembuluh darah besar dan kecil pada tungkai dan kaki.
  3. Pembuluh darah otak. Penyakit serebrovaskuler yang dapat terjadi sebagai komplikasi DM pada pembuluh darah otak misalnya stroke, arteriosklerosis serebral, aneurisma serebral, dan penyakit arteri serebral.

Komplikasi dengan mekanisme gabungan
  1. Kardiopati, merupakan gabungan anatra penyakit jantung koroner dan kardiomiopati (PB. PERKENI, 2002).
  2. Rentan infeksi, misalnya tuberkulosis paru, ginggivitis, dan infeksi saluran kemih. Tingginya kadar glukosa darah pada DM dapat menurunkan sistem imun tubuh, karena terjadi penurunan fungsi leukosit (Soeatmadji, 1996).
  3. Kaki diabetik atau diabetic foot, melibatkan beberapa faktor patogenik, yaitu neuropati pada syaraf di kaki, biomekanik kaki yang abnormal, penyakit vaskuler perifer, dan penyembuhan luka yang buruk (ADA, 2003). Akibat kaki diabetik, seringkali harus dilakukan amputasi pada kaki.