rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Hipertensi

I. Definisi.
Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg.


I1. Etiologi.
Berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi menjadi dua macam yaitu :
1.      Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, atau disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat pada sekitar 95 % kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain faktor genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem rennin-angiostensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraseluler dan faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya resiko seperti obesitas, alkohol, merokok serta polisitemia.
2.      Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat pada sekitar 5 % kasus. Penyebabnya spesifik diketahui, seperti penggunaan esterogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskuler renal, hiperaldosteronisme primer dan sindroma cushing, feokromositomia, koartasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain.

I1I. Klasifikasi.
WHO memberikan klasifikasi terhadap hipertensi yang dipakai diseluruh dunia, begitu juga dengan Perhimpunan Nefrologi Indonesia yang ikut merujuk pada kriteria WHO tersebut.
Klasifikasi
Sistolik (mmHg)
Diastolik (mmHg)
Normotensi
<140
<90
Hipertensi Ringan
140-180
90-105
Hipertensi Perbatasan
140-160
90-95
Hipertensi Sedang-Berat
>180
>105
Hipertensi Sistolik Terisolasi
>140
<90
Hipertensi Sistolik Perbatasan
140-160
<90

Kategori

Sistolik (mmHg)
Diastolik (mmHg)
Normal
<120
<80
Prehipertensi
120-139
80-89
Stage I
140-159
90-99
Stage Sedang & Berat
≥160

≥ 100

Tekanan Darah
Kelompok Resiko A
Kelompok Resiko B
Kelompok Resiko C
130-139/85-89
Modifikasi gaya hidup
Modifikasi gaya hidup
Dengan obat
140-159/90-99
Modifikasi gaya hidup
Modifikasi gaya hidup
Dengan obat
>160/>100
Dengan obat
Dengan obat
Dengan obat


Hipertensi sistolik terisolasi adalah hipertensi dengan tekanan sistolik sama atau lebih dari 160 mmHg, tetapi tekanan diastolic kurang dari 90 mmHg. Keadaan ini berbahaya dan memiliki peranan sama dengan hipertensi diastolic sehingga harus diterapi. Klasifikasi pengukuran tekanan darah berdasarkan kriteria Joint National comitte (JNC VII) tahun 2003 adalah sebagai berikut:

IV. Manifestasi Klinik.
Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala. Bila demikian, gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada mata, ginjal, otak atau jantung. Gejala lain yang sering ditimbulkan adalah sakit kepala, epistaksis, sering marah, telinga mendengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang dan pusing.

V. Anamnesis.
Ananmesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama menderitanya riwayat dan gejala penyakit-penyakit yang berkaitan seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskuler, dan lainnya. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga , gejala-gejala yang berkaitan dengan pentebab hipertensi, perubahan akifitas/kebiasaan (seperti merokok), konsumsi makanan, riwayat obat-obatan bebas, hasil dan efek terapi antihipertensi sebelumnya bila ada dan faktor psikososial lingkungan (keluarga, pekerjaan, dan sebagainya).

V1. Pemeriksaan Fisik.
Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali atau lebih dengan jarak sekitar 2 menit, kemudian diperiksa ulang pada lengan kontralateral. Dikaji perbandingan berat badan dan tinggi pasien. Kemudian perlu dilakukan pemeriksaan funduskopi untuk mengetahui adanya retinopati hipertensif, pemeriksaan leher untuk mencari bising karotik, pembesaran vena, pembesaran tyroid. Dicari adanya gangguan irama dan denyut jantung, pembesaran ukuran, bising, gallop dan bunyi jantung ketiga atau keempat. Paru diperiksa untuk mencari ronkhi atau bronkospasme. Pemeriksaan abdomen dilakukan untuk mencari adanya massa, pembesaran ginjal dan pulsasi aorta yang abnormal. Pada ekstremitas dapat ditemukan pulsasi arteri perifer yang menghilang, edema dan bising, dilakukan pula pemeriksaan neurology.

VI1. Pemeriksaan Penunjang.
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum melakukan terapi bertujuan untuk menentukan ada tidaknya kerusakan organ dan faktor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisa, darah perifer lengkap, kimia darah, foto Thorak dan EKG. Sebagai tambahan dilakukan pemeriksaan klirens kreatinin, protein urin 24 jam, asam urat, kolesterol LDL dan ekokardiografi.

VIII. Diagnosis.
Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran, hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada kunjungan yang berbeda., kecuali terdapat kenaikan yang tinggi ataupun terdapat gejala-gejala klinis. Pengukuran tekanan darah dilakukan pada keadaan pasien duduk di kursi, bersandar, setelah pasien beristirahat selama 5 menit dengan ukuran pembungkus lengan yang sesuai (menutupi 80% lengan ). Tensimeter dengan air raksa masih tetap dianggap alat pengukur yang terbaik.
Ananmesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama menderitanya riwayat dan gejala penyakit-penyakit yang berkaitan seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskuler, dan lainnya. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga , gejala-gejala yang berkaitan dengan pentebab hipertensi, perubahan akifitas/kebiasaan (seperti merokok), konsumsi makanan, riwayat obat-obatan bebas, hasil dan efek terapi antihipertensi sebelumnya bila ada dan faktor psikososial lingkungan (keluarga, pekerjaan, dan sebagainya)
  
IX. Penatalaksanaan.
Tujuan deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan diastolic dibawah 90 mmHg serta mengontrol factor resiko. Hal ini dicapai melalui modifikasi gaya hidup saja atau dengan obat antihipertensi. Kelompok resiko dikategorikan menjadi :
A.    Pasien dengan tekanan darah perbatasan, atau tingkat 1,2, atau 3 tanpa gejala penyakit kardiovaskuler, kerusakan organ dan factor resiko lainnya. Bila dengan modifikasi gaya hidup tekanan darah belum dapat diturunkan, maka harus diberikan obat antihipertensi.
B.     Pasien tanpa penyakit kardiovaskuler atau kerusakan organ lainnya, tetapi memiliki satu atau lebih factor resiko yang tertera diatas, namun bukan diabetes mellitus. Jika terdapat beberapa factor, maka harus segera langsung diberikan obat antihipertensi.
C.     Pasien dengan gejala klinis penyakit kardiovaskuler atau kerusakan organ lainnya yang jelas.
Factor resiko : umur lebih dari 60 tahun, merokok, dislipidemia, diabetes mellitus, jenis kelamin (pria dan wanita menopause), riwayat penyakit kardiovaskuler pada keluarga. Kerusakan organ atau penyakit kardiovaskuler : penyakit jantung (hipertrofi ventrikel kiri, infark miokard, angina pectoris, gagal jantung, riwayat revaskularisasi koroner, stroke, transient ischaemic attack, nefropati, penyakit arteri perifer dan retinopati.
Penatalaksanaan berdasarkan klasifikasi resiko :


 Penanggulan hipertensi dibagi dua penatalksanaan, yaitu:
1. Penatalaksanaan non farmakologis
2. Penatalaksanaan farmakologis.

1.Penatalaksanaan non farmakologis
Modifikasi gaya hidup yang cukup efektif dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler dengan biaya sedikit dan resiko yang minimal. Tata laksana ini tetap dianjurkan meskipun harus disertai pemakaian obat antihipertensi karena dapat menurunkan jumlah dan dosis obat. Langkah-langkah yang dianjurkan antara lain :
o   Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan.
o   Membatasi alkohol.
o   Meningkatkan aktivitas fisik aerobik (30-45 menit sehari)
o   Mengurangi asupan natrium.
o   Mempertahankan asupan kalium yang adekuat.
o   Mempertahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat.
o   Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam menu makanan sehari-hari.
2. Penatalaksanaan farmakologis
Penatalaksanaan dengan obat antihipertensi bagi sebagian besar pasien dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan secara titrasi seuai dengan umur dan kebutuhan. Terapi yang optimal harus efektif selama 24 jam dan lebih disukai dalam dosis tunggal karena kepatuhan lebih baik, lebih murah, dapat mengontrol hipertensi terus menerus dan lancar serta melindungi pasien terhadap resiko dari kematian mendadak, serangan jantung, stroke akibat peningkatan tekanan darah yang mendadak setelah bangun tidur. Setelah diputuskan untuk memakai obat antihipertensi dan bila tidak terdapat indikasi untuk memilih golongan obat tertentu, diberikan beta blocker atau diuretic. Jika respon tidak baik dengan dosis penuh, maka dilanjutkan sesuai dengan algoritma. Diuretik biasanya menjadi tambahan karena dapat meningkatkan efek obat lain. Jika tambahan obat kedua dapat mengontrol tekanan darah dengan baik minimal setelah 1 tahun dapat dicoba menghentikan obat pertama melalui penurunan dosis secara bertahap dan progresif.


ALGORITMA PENATALAKSANAAN PENDERITA HIPERTENSI

0 comments:

Post a Comment